Friday, August 3, 2018

Book Signing: Menerjemahkan Lidah Aruna ke Layar Lebar




Jumat (3/8) ini saya menyempatkan diri hadir ke acara book signing sekaligus diskusi buku Aruna dan Lidahnya. Acara ini bertempat di toko buku Aksara di Kemang, Jakarta. Membahas tentang proses transformasi dari novel ke film, sesi ini menghadirkan tiga pembicara; Laksmi Pamuntjak (penulis), Dian Sastrowardoyo (Disas/pemeran Aruna) dan Meiske Taurisia (produser). 

Acara yang dimulai pukul satu siang ini sudah cukup rame ketika saya sampai sekitar pukul dua belas. Tidak heran mengingat pada promo acara disebutkan beberapa keuntungan menarik yang akan diberikan selama acara berlangsung. Dua dari keuntungan yang diberikan adalah; acara makan mie ayam bersama serta untuk pengunjung yang beruntung, akan mendapatkan lima buku Aruna dan Lidahnya versi terbaru. Menurut informasi yang saya baca di twitter, lima pengunjung pertama yang membawa buku versi lama akan mendapatkan versi baru saat itu. Namun ternyata saat di lokasi, selain lima orang tersebut, dua orang pertama yang tidak membawa buku tetap mendapat buku Aruna versi baru. Sungguh beruntung ya.


Antrean di awal acara sempat membingungkan karena sampai pukul 12.30 belum ada tanda-tanda meja pendaftaran dibuka, sementara sudah banyak pengunjung yang datang. Saat tiba-tiba ada informasi bahwa pendaftaran akan dibuka pukul 12.45 di area depan toko buku, kami semua yang sudah menunggu di area dalam toko buku seketika menghambur keluar dan membentuk antrean. Benar-benar berdasarkan faktor hoki jadinya antrean ini. Saya yang datang sekitar pukul 12.15 ada di barisan keempat. Tentu saja saya dapat buku versi baru gratis haha, karena saya membawa buku lama. Lumayan satu disimpan, satu bisa dibaca sampai lecek.

Okay setelah antrean selesai, kami kembali menunggu di area dalam toko buku. Toko bukunya sendiri memang lumayan nyaman ya, saya baca-baca, ternyata memang banyak acara sering diselenggarakan disini. Selesai acara kali ini pun, saat saya bersiap-siap meninggalkan lokasi, saya lihat ada yang sedang mengganti properti panggung dan poster acara. Sepertinya bersiap-siap untuk acara selanjutnya. Padat ya.

ini situasi ruangan saat saya datang,
tidak sampai satu jam kemudian tempat ini sudah sangat padat
Acara baru mulai sekitar pukul 13.20, dan saya lihat area dimana sesi diskusi dan book signing berlangsung cukup padat. Sampai ada beberapa orang yang terpaksa berdiri karena tidak mendapat kursi atau tempat duduk lainnya. Seperti Hall Bukalapak tempat saya mengikuti acara BukaTalks, disini juga terdapat undakan seperti tangga yang dapat digunakan sebagai tempat duduk. Konsep desain yang banyak saya temukan pada beberapa tempat.

Setelah pembawa acara membuka sesi, satu persatu pembicara memasuki ruangan, dari mulai Laksmi, Meiske dan terakhir Disas. Satu persatu pembicara mengungkapkan proses kreatif di balik pembuatan novel dan film ini.


Laksmi tentu banyak menceritakan ide dan latar belakang penulisan novel yang sudah tiga kali cetak sejak pertama rilis di tahun 2014. Laksmi menceritakan alasannya memilih kuliner sebagai latar belakang novel, menurutnya ketika ada makanan, orang akan lebih mudah dalam mengemukakan pendapat. Pendapat yang berbeda-beda dapat disatukan saat berada di meja makan.

Sepotong kisah dari masa lalu Laksmi adalah alasan lainnya menuliskan novel ini. Almarhum suaminya yang meninggal pada 2013 silam memberinya inspirasi. Kala itu, di hari-hari suaminya yang menderita Kanker Pankreas, ia tidak lagi dapat menikmati bermacam makanan. Namun, kegiatan sehari-harinya adalah menonton program kuliner. Satu hal yang membuat Laksmi tentu bertanya-tanya, untuk apa menonton sesuatu hal yang tidak lagi dapat dinikmati. Namun suaminya beralasan, makanan memberi banyak kenangan indah dalam hidupnya. Laksmi pun melihat perubahan pada diri suaminya menjadi lebih romantis, satu hal yang ia tahu pasti berasal dari kenangannya akan makanan. Dari situ Laksmi sadar betapa kuliner bisa menembus banyak batas dari sekedar mengenyangkan diri. Novel ini pun dipersembahkannya untuk Almarhum suaminya.


Beralih ke Disas yang mengungkapkan alasan utamanya memilih film ini karena sangat jarang sekali genre komedi ditawarkan padanya, sekaligus tidak banyaknya film terkait kuliner yang saat ini beredar di pasaran. Setelah sebelumnya berkutat dengan film 'Kartini' yang lebih serius jenisnya. Film yang kembali mempertemukannya dengan Nicholas Saputra ini, juga salah satu sarana pembuktian kepada masyarakat umum kalau Disas-Nico bisa berperan sebagai teman, tidak selalu pasangan kekasih.

Disas mengungkapkan beberapa tantangan yang terjadi saat berperan dalam film dengan banyak adegan makan di dalamnya, tentu saja selain tantangan kenaikan berat badan yang harus dijaga. Salah duanya yang pertama adalah terkait memastikan keseimbangan antara menyelesaikan mengunyah makanan untuk kemudian berbicara. Memastikan tidak terlalu cepat mengunyah sehingga bisa tersedak atau sebaliknya, terlalu lama mengunyah baru kemudian berbicara sehingga durasi melebar. Hal kedua terkait dentingan alat makan yang digunakan, mengingat sebagian besar alat makan terbuat dari bahan pecah belah sehingga sentuhan sendok/garpu dengan alas makan sekecil apapun akan menimbulkan gangguan suara. Disas harus memastikan ia menyendok makanan pelan-pelan namun terlihat biasa saja.

Terkait karakter Aruna yang absurd, Disas terlebih dahulu membaca novelnya untuk memahami cerita sesungguhnya baru beralih ke skrip. Saking menghayatinya pada peran ini, salah satu peristiwa seru terjadi saat syuting. Peristiwa yang membuat Oka Antara, lawan mainnya, berkata Disas telah menjelma menjadi Aruna sesungguhnya. Peristiwa ini nantinya dapat disaksikan di layar lebar saat Aruna dan Lidahnya tayang akhir September nanti. Laksmi sebagai penulisnya pun belum mengetahui adegan apa yang dimaksud. Disas, dibantu Meiske, hanya memberikan petunjuk adegannya adalah kombinasi dari kegiatan olahraga dan UFO. Bikin penasaran ya, karena adegan tersebut benar-benar terinspirasi dari masa kecil Disas sendiri.

nongol dikit ya mejeng hihi
Meiske sebagai produser film yang digarap oleh PalariFilms mengungkapkan beberapa tantangan yang dihadapi dalam melakukan adaptasi tulisan ke dalam adegan, meramu bahasa menjadi cerita. Ia harus mampu memadukan aspek audio dan visual untuk menerjemahkan novel laris ini. Akting para pemain tentu salah satu komponen terbesar dalam film ini. Meiske merasa beruntung ia memiliki super cast untuk filmnya ini.

Apabila di novel diceritakan Aruna harus berkeliling delapan kota, dalam film ini hanya akan diceritakan petualangannya di enam kota saja. Kota-kota yang dipilih berlokasi di Pulau Jawa dan Kalimantan. Tentu bukan tanpa alasan keputusan ini dibuat, selain masalah teknis, kuliner dari kedua pulau ini dianggap memiliki keragaman yang berbeda. Perpaduan keragaman kuliner keduanya akan menghadirkan keunikan tersendiri di dalam filmnya. Meiske secara personal menyebutkan kota Singkawang paling meninggalkan kesan di hatinya.

Selesai acara diskusi, berikutnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab berjalan seru karena beberapa peserta yang hadir merupakan penggemar berat Laksmi atau Disas. Salah satu penggemar Laksmi hadir jauh dari Karawang dan sudah tiba di lokasi dari pukul sepuluh pagi. Ia membawa beberapa buku karya Laksmi yang sudah cukup lama, sampai Laksmi pun takjub dan memperhatikan bukunya dengan seksama, melakukan pengecekan cetakan keberapa. Sementara salah satu Sahabat Disas (panggilan untuk penggemar Dian Sastro) ada yang telah mengikuti kiprahnya sejak tahun 1997. Sungguh luar biasa dedikasi pria ini, sampai-sampai Disas pernah mengantarnya pulang dengan mobil pribadinya karena sang penggemar kehabisan uang setelah datang ke salah satu acara Disas.


Selesai tanya jawab, saatnya para pembicara memilih pertanyaan terbaik, dan bersamaan dengan peserta yang mengisi pendaftaran di saat-saat awal, dilakukan foto bersama. Lumayan ada sesi foto ini jadi saya ga perlu nungguin atau ngejar Laksmi/Disas untuk foto bareng jadinya haha. Novel Aruna dan Lidahnya edisi sampul film pun pertama kalinya diedarkan di acara ini. Saya jadi punya dua versi novel sekarang, hamdalah yang ini gratisan jadinya saya bisa pakai untuk dimintakan tanda tangan dan simpan saja.

Setelah sesi foto bersama untuk para pemenang, kami langsung berbaris untuk acara utama: book signing. Ini sebenarnya tujuan utama saya datang haha.


(ki-ka) tanda tangan Meiske, Laksmi dan Disas
Mengingat novelnya bercerita soal kuliner, tidak lengkap rasanya tanpa aspek makanan hadir di dalamnya ya. Salah satu gimmick  yang diberikan acara ini adalah makan mi ayam bersama. Sehingga selesai mengantre tanda tangan, saya diarahkan ke area belakang toko buku yang cukup terbuka untuk menukarkan kupon saya dengan mi ayam.

mi ayam diracik di tempat!
Lokasi toko buku Aksara ini memang cukup luas ya ternyata. Di area belakang selain ruang terbuka, terdapat ruang-ruang kecil untuk berdiskusi atau rapat kecil. Terdapat banyak bangku-bangku juga untuk bersantai. Area yang nyaman dan enak banget untuk baca-baca.

it's set! delish.
Mi ayamnya buatan sendiri dengan mi yang sedikit kenyal. Saya bukan pecinta kuliner tapi paham kalau kaldu yang dipakai sebagai kuah mi berbeda. Ngobrol-ngobrol dengan peserta lain yang baru saya temui di lokasi, sepertinya mereka menggunakan kaldu dari tulang sapi. Wihh, pantas beda rasanya. Bonus sekali memang kalau datang acara kemudian bertemu dengan orang lain yang memiliki minat yang sama.

Terima kasih untuk acaranya yang seru PalariFilms, Toko Buku Aksara dan Gramedia Pustaka Utama. Ditunggu acara-acara lainnya.

Nah, sudah siapkah Anda menonton Aruna dan Lidahnya?
Masih ada waktu membaca bukunya dulu sebelum filmnya rilis loh 😉

0 comments:

Post a Comment