Sunday, June 10, 2018

Balik ke 20 Tahun Lalu: Serunya Piala Dunia 1998


Photo by Fauzan Saari on Unsplash
Tanggal 14 Juni 2018 ini pergelaran acara sepakbola empat tahunan, Piala Dunia, akan diselenggarakan di Rusia. Rusia adalah tuan rumah Piala Dunia 2018 ke-21, yang akan berjalan satu bulan penuh sampai 15 Juli mendatang. Ini pertama kalinya negara tersebut menjadi tuan rumah event terbesar sedunia untuk olahraga bola sepak tersebut. Banyak negara berebut menjadi tuan rumah Piala Dunia, namun baru 16 negara yang sukses terpilih. Meksiko, Italia, Perancis, Jerman dan Brasil cukup beruntung pernah menjadi tuan rumah lebih dari satu kali.

Piala Dunia adalah ajang olahraga empat tahunan untuk negara-negara di dunia yang tergabung di dalam FIFA (The Federation Internatiole de Football Association). FIFA sendiri adalah organisasi olahraga sepakbola seluruh dunia. FIFA menaungi berbagai hal terkait olahraga ini termasuk persetujuan turnamen dan pembuatan prosedur yang mengatur jalannya pertandingan. Negara yang berpartisipasi dalam Piala Dunia harus melewati serangkaian pertandingan kualifikasi untuk akhirnya masuk jajaran final peserta Piala Dunia. Hanya ada 32 negara yang akan berpartisipasi pada setiap Piala Dunia.


Sepakbola adalah olahraga paling populer di seluruh dunia. Dikutip dari sini, ada banyak faktor yang membuat olahraga yang sering disebut dengan nama The Beautiful Game ini menjadi nomor satu.  Alasan yang melingkupinya berputar pada tiga faktor: olahraga yang banyak ditonton, memiliki penggemar dengan fanatisme tingkat tinggi dan paling sering dimainkan dimana saja. Poin terakhir sangat valid, mengingat siapapun pasti pernah menendang bola dalam hidupnya. Situs topendsports mengungkapkan ada kurang lebih 3,5 miliar penonton sepakbola setiap tahunnya. Pergelaran Piala Dunia 2016 memancing 30 miliar lebih penonton, lebih banyak dari jumlah penduduk dunia. Ini terjadi karena satu orang akan menonton beberapa pertandingan terus-menerus, menandakan betapa loyalnya mereka akan perhelatan akbar tersebut.

Tidak heran kehebatan olahraga ini membuat FIFA dapat dengan sombongnya menamakan acara tahunan mereka sebagai World Cup atau Piala Dunia. Tanpa embel-embel Soccer/Football, orang akan langsung paham kejuaraan ini dibuat untuk olahraga apa dan levelnya pun terpampang jelas, kelas dunia. Tidak heran kalau saya dan mamah merah memilih untuk menulis soal tema Piala Dunia minggu ini. Saya sendiri akan fokus ke Piala Dunia 1998 yang penuh cerita dan kenangan.


Ngobrolin Piala Dunia 1998, sepertinya baru kemarin dalam ingatan ketika Pasukan Les Bleus  (Si Biru, julukan untuk tim nasional Perancis) mengangkat trofi Jules Rimet. Ternyata sudah dua puluh tahun berlalu, dan untuk anak 90an pecinta olahraga, Piala Dunia 1998 adalah salah satu momen olahraga yang banyak meninggalkan kenangan. Beberapa di antaranya bahkan masih meninggalkan banyak misteri hingga saat ini.

Apa saja momen berkesan dari masa itu?

BERSINARNYA ZIDANE, MEREDUPNYA RONALDO
Zidane dan Ronaldo pada acara pertandingan FIFA All Stars di tahun 1997
Penggemar bola dunia pasti masih ingat kemenangan fantastis Perancis atas Brasil di final Piala Dunia 1998, telak 3-0. Satu kejutan luar biasa. Bukan karena Perancis akhirnya untuk pertama kalinya berhasil mendekap piala tersebut, namun karena penampilan tim Brasil yang seperti antiklimaks dan mendapatkan kekalahan terbesar mereka di ajang Piala Dunia sampai saat ini.

Bintang utama mereka, Ronaldo, tampil jauh di bawah harapan. Banyak pihak masih melakukan spekulasi atas performan Ronaldo yang jauh di atas standar tersebut, bahkan sampai saat ini. Di lapangan, Ronaldo terlihat tidak mampu lepas dari penjagaan lawan dan tidak banyak memegang bola. Ada yang mengkaitkan kondisi kesehatan Ronaldo saat itu dengan kontrak besar senilai 105 juta poundsterling untuk Nike, sehingga memaksanya selalu bermain dalam kondisi apapun. Ada juga yang mengaitkannya dengan emosional Ronaldo yang sebenarnya tidak stabil, bahkan Pele menyebutkan pikiran Ronaldo tidak di lapangan. Teori terakhir menyebutkan Ronaldo keracunan makanan, yang kemungkinan besar disengaja. Situs ini menjabarkan teori-teori tersebut dengan cukup detil. 

Apabila Ronaldo meredup, sebaliknya terjadi pada lawannya hari itu. Tim Nasional Perancis berada pada era terbaik saat Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Mereka menonjol pada semua lini, dari depan hingga belakang. Namun satu paling menonjol, playmaker atau pengatur lapangan mereka, Zinedine Zidane. Walau beberapa pendapat mengungkapkan Zidane lebih bersinar saat Piala Eropa 2000, perannya tetap vital di final Piala Dunia 1998. Zidane menghasilkan dua dari tigal gol untuk Perancis melalui sundulannya saat itu. Ia mampu melepaskan diri dari penjagaan ketat yang dilakukan lawan.

KARTU MERAH BECKHAM

Tidak terhitung berapa banyak penggemar Three Lions (sebutan untuk tim nasional Inggris) yang menghujat kelakuan bodoh David Beckham dua puluh tahun lalu. Sampai saat ini, masih banyak pihak yang menyayangkan kejadian tersebut, mengingat pasukan 1998 adalah pasukan terbaik yang dimiliki Inggris untuk mengulang kejayaan tahun 1966. Tahun terakhir kalinya mereka dapat merengkuh piala berlapis emas.

Beckham yang merupakan salah satu harapan Inggris saat itu baru saja bersinar pada pertandingan sebelumnya saat melawan Kolombia. Lolos dari grup, Inggris memasuki babak 16 besar dan bertemu Argentina. Gairah timnas Inggris sangat besar untuk mengalahkan Argentina, balas dendam atas kekalahan mereka di Piala Dunia tahun 1986. Namun pemain yang saat itu berusia 23 tahun tersebut sayangnya masih dikuasai oleh emosi.

Diego Simeone, sesama midfielder atau pemain tengah, memiliki tugas menjaga Beckham dan beberapa kali tampak melakukan usaha keras untuk menghadang laju Beckham. Salah satu kejadian ketika Simeone mengganjal di babak pertama, Beckham terprovokasi dan menendang balik. Kejadian ini mengakibatkan kartu merah untuk Beckham, dan Inggris harus bermain dengan sepuluh orang sampai akhir pertandingan, yang berujung pada kekalahan saat adu penalti. Sampai saat ini, masih banyak yang membicarakan kejadian ini dengan melihat dua sisi, tidak hanya Beckham namun juga membahas peran Simeone yang dianggap sengaja memprovokasi.

TERAKHIR UNTUK YUGOSLAVIA

Tahun terakhir dunia menyaksikan tim nasional Yugoslavia bertanding di Piala Dunia dengan salah satu pasukan terbaik mereka. Dilarang bertanding saat Piala Dunia 1994 diadakan di Amerika Serikat membuat Yugoslavia memiliki cukup waktu untuk berbenah. Negara ini memang banyak memiliki konflik politik di dalam internal mereka. Satu-satunya yang menyatukan mereka saat itu adalah sepakbola. 

Bersinar di babak kualifikasi, harapan cukup besar ditempatkan pada pundak pasukan-pasukan muda Yugoslavia dengan minim pemain populer. Pemain paling populer mereka saat itu adalah Predrag Mijatovic dari Real Madrid dan Dejan Stankovic dari Lazio, sisanya lebih banyak berlaga di kompetisi dalam negeri.

Sayangnya, aspek emsoional para pemain yang cukup tinggi memengaruhi pertandingan mereka di ajang France'98 ini. Situs New York Times bahkan membahas mengenai emosionalnya para pemain lebih lanjut. Mereka menyebutnya Yugoslav temperaments, satu asosiasi yang diberikan untuk pemain dari negara penuh konflik. Tidak terlhat sebagai tim yang kompak, mereka justru lebih terlihat sebagai pemain-pemain yang rungsing. Temperamen ini semakin jelas saat mereka bermain di Piala Dunia 2000 dimana pemain-pemain mereka menuai banyak kartu merah.

Per 2006, Yugoslavia tinggal sejarah. Negara ini terpecah menjadi Serbia Montenegro dimana FIFA mencatat Serbia sebagai penerus Yugoslavia, dan Montenegro adalah negara baru yang tercatat di FIFA pada tahun 2007. 

by the way, Predrag Mijatovic (on picture) was my fave football players in the 90s. He's awesome. Specially his duet with Suker in Madrid. out of topic anyway.

KUDA HITAM ITU BERNAMA KROASIA SUKER


Kroasia berhasil sampai babak semifinal dan akhirnya duduk di posisi ketiga berkat satu nama, Davor Suker. Negara kecil dengan tidak banyak pemain terkenal ini memang menjadi kuda hitam pada Piala Dunia 1998 lalu. Sepak terjangnya tidak terlacak namun mampu menyulitkan lawan. 

Mengalahkan nama besar Jerman di perempat final dan menghadang laju Belanda di perebutan tempat ketiga, Kroasia melejit menjadi satu kekuatan sepakbola baru di benua Eropa. Mereka hanya dikalahkan Perancis di semifinal, yang akhirnya menjadi pemenang akhir. 

Torehan enam gol selama kompetisi membuatnya mengalahkan banyak striker, pemain penyerang dengan tugas mencetak gol, lain pada saat itu. Nama-nama terkenal seperti Gabriel Batistuta, Ronaldo dan Michael Owen dilibasnya. Suker mampu berlari lepas dari kawalan dan menjadi penghubung baik antara satu pemain dengan pemain lainnya. Ia paling baik saat berada di sekitar garis gawang, dimana tanpa terduga, ia mampu membuat peluang sekecil apapun menjadi gol.

RICKY MARTIN!


Tidak lengkap Piala Dunia tanpa lagu tema yang mengiringinya. Piala Dunia 1998 adalah masa dimana Ricky Martin menggabungkan Ale Ale dan Ole Ole menjadi satu. Lagu tema ini memiliki lirik yang menggambarkan semangat dan hasrat Piala Dunia itu sendiri sebagai Piala Kehidupan.

Terlepas dari kontroversi, Piala Dunia 1998 adalah yang terbaik dalam sejarah penyelenggaraan. Kamu punya pendapat lain?

Jangan lupa cek postingan Mamah merah di sini ya. 









2 comments:

  1. Zizou mailaffff!

    Piala Dunia 1998 emang seru bangeeet! Gue sampai beli beberapa buku panduan Piala Dunia, menghafal setiap pemain sampai ke tampang-tampangnya. Bahkan setiap re-run pertandingan gue babat nonton lagi.

    Ehm, daripada versi Ricky Martin, gue lebih suka versi Project P "Lagunya Lagu Bola" hahaha.

    Thanks for bringing back all these lovely memories!

    ReplyDelete
    Replies
    1. APAAHHH? Ada yang lebih oke dari Ricky Martin?? Itu urang-urang Bandung dibandingkan dengan pria latinku??? Ricky memang tidak lucu, tapi dia bisa memanaskan situasi #apainiyangdibicarakan...

      Anyway, ingatan PD terbaik gue emang 1998. dari kualifikasi sampai selesai semacem emosi naik turun mulu lol. Nah iya, sampe beli panduan segala dan menanti kang koran bawa Bola sungguh rasa lama bangets wakakaka...

      Delete