Sunday, August 12, 2018

Suka Duka Menjadi Travel Writer di Zaman Now


Akhir pekan ini (11/08) cukup produktif untuk saya karena sempat menghadiri salah satu acara yang diadakan oleh The Jakarta Post Writing Center, atau biasa disingkat TJP. Bukan kali pertama saya ikut acara milik mereka, tahun lalu saya sempat mengikuti salah satu workshop mereka terkait Narrative Essay dan secara rutin, tiap tahun sejak 2017, saya hadir pada acara tahunan Writer's Series. 

Mengetahui mereka mengadakan sesi gratis terkait Travel Writing melalui laman instagram, tentu saya tidak menyia-nyiakan diri untuk mendaftar ya. Sempat ajak teman lagi, lumayan ada teman ngobrol. Walaupun kalau misalnya ga ada temen pun tetap saja jalan sih saya haha.
Wini yang beruntung menemani saya kemarin haha
The Jakarta Post Writing Center ini adalah bagian dari media nasional The Jakarta Post.
The Jakarta Post Writing Center is the continuing education and professional development division of The Jakarta Post media which specializes in English writing studies.
Tujuan dari TJP adalah menciptakan lebih banyak orang untuk membagikan cerita dalam bahasa Inggris. Banyak program yang dilakukan divisi pendidikan dan pengembangan milik Jakarta Post ini, terbagi menjadi lima bagian utama. Academia bertujuan untuk membantu peserta dalam membuat tulisan ilmiah, Corporate Training fokus pada kebutuhan spesifik dan bisa dimodifikasi oleh perusahaan,  Business and Communication berfokus pada cara efektif melakukan komunikasi bisnis, Personal Development berfokus mengeluarkan aspek terbaik dari diri dan terakhir, favorit saya, Creative Writing Workshop yang menggambarkan tujuan utama dari program TJP. 

Creative Writing Workshop (CWW) terdiri dari tiga jenis program di dalamnya; kelas akhir pekan, kelas pendek dan kelas satu hari. Kelas Travel Writing adalah bagian dari kelas akhir pekan, seperti program Narrative Essay yang saya ikuti tahun 2017 silam. Kelas ini berlangsung dalam waktu enam minggu, dengan satu sesi sepanjang empat jam per minggu. Setiap sesinya akan penuh dengan banyak diskusi menarik dan tentu saja tugas-tugas yang melimpah haha. Biaya workshop tahun 2018 ini masih sama seperti tahun lalu, 5,500,000 per orang. Ada diskon satu juta rupiah untuk mereka yang mengikuti sesi kali ini. Wini, teman saya sih kayanya tertarik. Nanti saya pinjam materi dia saja deh hihi.

Mia - koordinator TJP

Ninda - koordinator Creative Writing
Acara dimulai dengan dua sambutan dari koordinator divisi TJP dan program CWW, menjelaskan terkait TJP secara umum, dan CWW secara khusus. Tentunya sekalian promosi kelas Travel Writing yang akan mulai di bulan September besok. Pukul 14.30 narasumber utama acara siang hari itu muncul, Agustinus Wibowo. Ini kali kedua saya mengikuti seminar dengan narsum Agustinus, sebelumnya awal tahun ini, saya mengikuti kelas yang hampir sama di acara Gramedia Writers and Readers Forum (GWRF) bulan April lalu di Perpustakaan Nasional. Pada acara GWRF itu saya sangat terkesima dengan cara Agustinus membawakan materi, jelas terlihat semangat dan kecintaannya terhadap profesi yang ia geluti sejak tahun 2005 silam. Salah satu alasan lain saya bersemangat ikutan acara ini.

They said 1 photo worth 1000 words, but 1000 words is not enough to tell story. So that's why I became a writer
-Agustinus Wibowo

Agustinus Wibowo memulai karirnya sebagi fotografer perjalanan (travel photography) sebelum akhirnya beralih menjadi penulis. Cerita perjalanannya dimulai pada tahun 2005 ketika ia memulai petualangannya melalui perjalanan darat keliling Asia. Agustinus sempat terdampar selama tiga tahun di Afghanistan dan bertahan menjadi jurnalis foto. Sampai saat ini, ia telah menerbitkan tiga buku berbahasa Indonesia dan satu buku dalam bahasa Inggris. Tulisan-tulisan Agustinus dikenal dalam dan penuh kontemplasi, hal ini tentu sangat dipengaruhi dengan kemampuannya berbicara dengan penduduk setempat. Kepiawaiannya dalam menulis ini didukung kecintaannya pada bahasa. Saat ini selain Bahasa Inggris, Indonesia dan Mandarin, setidaknya ia menguasai tiga belas bahasa lainnya. Bahasa-bahasa ini dipelajarinya secara akademis dan otodidak. 

foto dari agustinuswibowo.com
Pada awal sesi, Agustinus mengajak peserta merumuskan terlebih dahulu apa itu travel writing dan apa bedanya dengan jenis tulisan lain. Satu hal spesial yang membedakan travel writing dengan jenis tulisan lain seperti esai, memoar, jurnalistik atau sejarah adalah fokusnya. Travel writing berfokus pada tempat. Melihat dari dua kata yang terbentuk, tentunya kegiatan ini terdiri dari dua aktivitas: travel dan writing. Aktivitas terakhir tentunya yang paling sulit dilakukan, menulis - mencari cerita untuk dituliskan.

gambar dari sini
Agustinus kemudian mengajak peserta mencari tahu alasan seseorang menuliskan pengalamannya berwisata. Hal ini tentu saja tidak lepas dari semakin mudahnya seseorang melakukan perjalanan wisata saat ini. Berbagai jawaban muncul dari mulai sekedar untuk mendokumentasikan perjalanan, berbagi kepada pembaca lain sampai pamer haha. Jujur banget deh yang jawab pamer. Dan memang tidak ada yang salah dari semua jawaban tersebut, apalagi di masa sekarang ketika sosial media tersebar di mana-mana, sehingga semua orang dapat dengan mudah berbagi cerita. Aktivitas ini tentu membuat semakin banyak orang yang menyebut dirinya 'travel writer' di luar sana. 

Berwisata di zaman now demikian mudah. Penerbangan dengan biaya rendah banyak tersedia, pilihan akomodasi semakin beragam,tidak hanya terbatas pada hotel dan hostel tapi juga berbagi ruangan. Situs rekomendasi yang berasal dari pengalaman nyata sesama wisatawan pun banyak tersedia, sehingga semakin banyak referensi yang dapat diperoleh. Semakin mudah juga untuk seseorang berbagi di laman daring, menceritakan semua pengalamannya berwisata. Mulai dari berbagi itineraries, biaya yang dihabiskan sepanjang perjalanan, tips dan trik terkait segala macam hal terkait perjalanan wisata sampai aspek-aspek terkecil lainnya. 
semua mitos ini tidak benar adanya
Bertebarannya semua informasi ini, serta gratis, di internet menjadikan semakin sempitnya ruang lingkup seorang 'travel writer' sejati. Memuat satu tulisan di laman daring sudah membuat siapapun dapat menyebut dirinya sebagai penulis perjalanan. Hal ini tidak salah, mengingat profesi travel writer tidak memerlukan latar belakang pendidikan tertentu atau sertifikat keahlian khusus yang perlu diraih. Semua orang dapat menjadi travel writer

Semua fakta yang diungkapkan Agustinus ini menyadarkan peserta terkait fakta semakin sulitnya menjalani profesi ini. Melihat tidak benarnya semua mitos menyenangkan yang kerap dikaitkan dengan profesi ini semakin menguatkan hal itu. Bukan kesempatan menjadi menjadi travel writer tertutup, namun kualifikasinya menjadi semakin sulit. Saat ini pembaca (dan juga editor), membutuhkan tulisan yang mampu menunjukkan perspektif berbeda dari satu lokasi tertentu. Ribuan, bahkan mungkin jutaan orang telah berkunjung ke satu tempat yang sama, karena jujur tidak ada lagi tempat di muka bumi ini yang belum pernah dijelajahi manusia. Cerita yang unik dengan pendekatan yang berbeda akan mencuri perhatian.

Sebutlah Menara Eiffel, Taj Mahal atau Candi Borobudur. Jutaan orang telah singgah di lokasi-lokasi ikonik tersebut, dari berbagai latar belakang dan budaya. Mampukah kita mengeluarkan cerita yang berbeda dari yang telah ada? Adakah sudut yang belum terjamah dan diceritakan ke dunia luar? Apa keistimewaan kita sebagai penulis yang mampu membuat cerita terasa berbeda dari penulis lainnya?


Agustinus menyarankan satu tip untuk semua orang yang ingin menjadi travel writer, banyaklah bertanya. Pergilah dalam satu perjalanan layaknya seorang detektif yang memiliki misi untuk diselesaikan. Tetapkanlah tujuan perjalanan ini di awal. Tentukan sudut apa yang ingin dicapai; apakah sisi sejarah, aspek kuliner atau kehidupan sosial di sekitar satu tempat. Tajamkan seluruh indra dalam diri kita untuk mendapatkan pengalaman yang sebenar-benarnya. Lihat dari sudut pandang yang berbeda. 
Deliver the places as if the readers experience itself
Travel writer adalah bagian dari jenis tulisan non-fiksi kreatif.  Nonfiksi kreatif memadukan aspek menghibur dari tulisan fiksi, namun tidak melupakan fakta nyata dari sebuah tulisan nonfiksi. Tantangannya tentu saja mengemas semua fakta ini menjadi tulisan yang tidak hanya memberikan pengalaman baru pada pembaca, membuat mereka ikut merasakan perjalanan tersebut, namun juga menghibur pembaca.


Mulailah menulis dengan melakukan empat hal berikut:
  • Menentukan tema - tema besar tulisan kita dalam satu kata
  • Membuat premis - kesimpulan cerita yang ditulis dalam satu kalimat
  • Melakukan peta memori - mengumpulkan semua aspek yang terjadi dalam perjalanan yang dilakukan
  • Menyusun struktur - membuat rumusan alur dari tulisan yang dibuat

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam menulis kisah perjalanan saat ini adalah aspek kontemplasi. Mengapa cerita ini perlu dibagikan kepada pembaca? Apa arti dari perjalanan tersebut untuk aku? Apa yang membuatnya spesial? Mengapa pembaca akan dapat menarik keuntungan dari kisah saya?

Setelah sekitar satu jam membawakan materi, Agustinus membuka sesi tanya jawab dengan diskusi yang menyenangkan dan terbuka. Saya sendiri sempat menanyakan terkait perlukah seorang penulis perjalanan memiliki keterampilan memotret atau mengedit video. Dengan jujur Agustinus menyatakan dua hal tersebut adalah kegiatan yang membutuhkan kemampuan dan fokus yang berbeda. Media yang baik biasanya memiliki dana terpisah untuk penulis dan fotografer, dan mereka tidak harus bepergian bersama-sama. Namun tentunya dengan alasan efektivitas dan efisiensi saat ini, kedua tugas tersebut sering dilakukan oleh satu orang yang sama. Ini salah satu alasan mengapa banyak muncul tulisan-tulisan yang kurang dalam saat ini. Membagi konsentrasi antara menulis dan memotret itu sungguh melelahkan, tambahnya. 

Salah satu peserta yang mengaku penggemar berat Agustinus, sedang mengajukan pertanyaan
Pertanyaan lainnya seputar kendala dana sehingga tidak dapat bepergian jauh untuk menghasilkan cerita. Agustinus menjawab cerita perjalanan tidak musti jauh dan mahal. Ceritakan tentang berbagai macam tempat di sekitar kita, sekitar tempat tinggal kita, sudah lebih dari cukup. Selama kita melakukan perjalanan dengan baik, pasti akan tercermin dari kualitas tulisan kita. Terkadang kita lupa melihat sekitar dan fokus melakukan perjalanan jauh untuk mendapatkan cerita. Wah, tertohok sekali ini saya haha.

Jawaban Agustinus tentang profesi travel writer dapatkah diandalkan sebagai profesi utama ini paling ditunggu-tunggu semua peserta. Agustinus mengakui saat ini profesi utamanya adalah travel writer, tapi bukan hal mudah tentunya menjalani profesi ini sekarang. Tidak bisa lagi mengandalkan dengan hanya menulis untuk media tertentu, namun harus menulis buku dan memperbanyak menulis artikel. Namun lebih jauh dari sekedar pendapatan, travel writer yang baik harus mampu memaksimalkan kehidupannya.

sesi foto bersama yang ditunggu-tunggu
Tidak sabar menunggu sesi-sesi penuh inspirasi lainnya dari TJP, deh. Mereka menyebutkan sesi semacam ini adalah bagian dari kegiatan klub buku yang mereka miliki. Sehingga sangat mungkin sesi sejenis akan diadakan lagi secara teratur. 

Yuks, ikutan bareng kalau ada lagi ya?

Serunya Ketemu Lisa Blackpink


Kamis (09/08) lalu adalah hari yang bersejarah untuk semua Blinks Indonesia. Blinks adalah panggilan untuk penggemar grup vokal wanita asal Korea Selatan, Blackpink. Untuk pertama kalinya, salah satu personel Blackpink berkunjung ke Indonesia. Pranpriya Manoban, nama lengkap Lisa, adalah anggota Blackpink asal negara tetangga, Thailand. 

Blackpink (BP) adalah girlgroup bentukan agensi hiburan Korea Selatan, YG Entertainment. BP dibentuk pada 8 Agustus 2016 silam, enam tahun setelah YG sukses dengan 2NE1. Sampai saat ini, BP memang sering dianggap sebaik 'adiknya 2NE1'. Bukan tanpa alasan tentunya, mengingat kedua grup memiliki jumlah anggota, gaya serta jenis musik yang sama. BP beranggotakan Jisoo (vokalis), Jennie (rapper), Rose (vokal utama) dan Lisa (dancer).  Video musik untuk lagu debut mereka, Boombayah, telah ditonton 350 juta kali di kanal Youtube. Walaupun telah debut dari 2016, mereka baru mempunyai debut album pada 15 Juni 2018 berjudul 'Square Up'.

BP memiliki catatan rekor yang sangat membanggakan. Bulan Agustus ini mereka memuncaki daftar girlgroup Korea Selatan paling berpengaruh dari segi branding. Pada daftar ini BP secara teratur berada di tiga besar bersama dua grup besar lainnya seperti Twice dan Red Velvet. Namun berbeda dengan BP, kedua grup tersebut rajin mengeluarkan lagu dan album baru setidaknya sekali dalam jangka waktu tiga atau enam bulan. Berbeda dengan BP yang sepanjang 2017 kemarin hanya mengeluarkan satu lagu bertajuk 'As If It's Your Last' yang telah ditonton lebih dari 365 juta di kanal Youtube, jauh lebih banyak dari lagu debut mereka. Tidak heran apabila lagu terbaru mereka, Ddu-du Ddu-du, yang baru dirilis 15 Juni kemarin sudah mendekati 300 juta tampilan.

gambar dari shopee
Tidak heran ketika aplikasi belanja daring Shopee mengumumkan rencana mereka memboyong Lisa, Blink Indonesia macam histeris. Pada beberapa media sosial, terutama twitter, banyak cuitan terkait informasi ini. Shopee sendiri membawa Lisa sebagai bagian dari strategi pemasaran mereka. Dalam rangka peluncuran toko resmi milik YG Entertainment, Shopee melakukan promosi dengan memberikan 3000 tiket gratis untuk bertemu Lisa. Tentu saja saya ikutan tertarik, kapan lagi menonton acara Korea dengan harga tiket kurang dari lima ratus ribu rupiah kan saya pikir. Mengingat tetap harus membeli barang, tentu incaran saya sesuatu dengan harga paling murah atau yang saya masih tetap bisa simpan misalnya album. Haha. 


Peluncuran toko daringnya sendiri dilakukan pada 31 Juli 2018. Saya sempat deg-deg-an sih dapat atau enggak, melihat jarang beruntung dalam perburuan versi daring begini. Terakhir kali berburu daring adalah membeli tiket konser Wannaone dan itu butuh sekitar empat jam sampai akhirnya dapat tiket, karena ada yang membatalkan pembelian. Nah sementara untuk acara Shopee ini, sepertinya berbeda sistem dan tentu saja dengan kuota yang lebih sedikit. Hanya sekitar 3000 tiket yang dijual berarti 3000 barang yang tersedia.

Saya sudah membuka aplikasi Shopee sekitar pukul setengah 12 malam namun lupa melakukan pengecekan barang-barang apa saja yang dijual, ternyata sudah bisa diintip sebelumnya walau harganya belum keluar. Namun untunglah tepat jam dua belas malam saya masih sempat akses ke toko resmi YG Entertainment dan menelusuri setiap barang yang dijual. Lima menit pertama masih cukup nyaman untuk saya melihat-lihat dan melakukan pengecekan harga. Tapi memang ya kalau model cepet-cepetan gini ga boleh kebanyakan mikir, haha. Target saya memang tadinya mau beli mini albumnya BP dengan harga sekitar 300an ribu, masih tergolong oke lah harganya, tapi kehabisan aja dong. Jadi cek sana sini, pilih barang termurah saja. Ada dua yang sempat masuk keranjang belanja saya, scarf ala G Dragon dan poster Lisa. Karena lebih murah harga poster Lisa, jadi itu saja yang saya bayar haha. 

ini barang yang saya beli, baru ngeh typo haha
Lumayan lah ya 209 ribu sebagai biaya masuk ke acara Lisa ini. Poster ini harga termurah ketiga ternyata, dihitung loh hihi. Tadinya mikir karena namanya photo frame kan modelan kecil gitu ya, buat taruh di meja atau gimana, ternyata besar seukuran rata-rata poster kalau beli album Korea gitu. Packing-nya Shopee juga bagus banget, pake karton pipih dan diantar langsung dengan kurir khusus jadi ga takut terlipat atau apa. Sempat bikin penasaran ini paket saat sampe rumah, karena gede banget dipikir apaan haha. Yang jelas ga bakal dipajang sih ini, coba nanti jual daring siapa tahu jadi mahal harganya haha. Kalau kemarin sih saat launching, hanya produk terkait BP dan Big Bang saja yang dijual, tapi sekarang produk-produk kosmetika keluaran YG, Moonshot, sudah dapat ditemukan.

Nah sehari setelah pembayaran disetujui akan ada notifikasi di aplikasi Shopee terkait pendaftaran untuk acara Meet&Greet Lisa ini. Jadi ternyata selama pembelian berhasil, semuanya akan mendapat tiket langsung. Luar biasa ternyata, hanya dalam waktu 12 menit seluruh produk yang terjual di toko YG Entertainment terjual habis. Saya sendiri saksi hidup banget melihat label setiap produk berubah menjadi habis dan tidak bisa di-klik dalam hitungan menit. Haha. Nah balik lagi ke konfirmasi kedatangan acara, semua calon penonton harus mengisi google docs yang diberikan di aplikasi sebelum tanggal tertentu atau tiket akan dianggap hangus. 

Setelah pengisian lembar konfirmasi, pihak Shopee menginformasikan kode tiket untuk ditunjukkan di lokasi acara melalui aplikasi kembali. Melalui laman media sosial saya melihat banyak keluhan terkait tidak mendapatkan kode konfirmasi, ternyata mereka semua menunggu dikirimkan via surel, seperti layaknya saat membeli tiket konser. Cara yang efektif membuat banyak orang paham penggunaan aplikasi daring Shopee, sama seperti saat saya menonton acara BukaLapak lalu, semua konfirmasi kedatangan harus lewat aplikasi. 

kode konfirmasi saya
Setelah dapat kode konfirmasi tinggal menunggu santai sampai hari H. Begitu pikir saya tadinya, sampai teringat kalau acara ini ternyata hari kerja. Lol banget bisa lupa kalau acaranya mulai pukul 2 siang, kirain brlangsung setelah jam kerja. Untunglah dapat ijin setengah hari dari kantor. Ternyata masalah belum berakhir sampai sana, penukaran tiket hanya berlangsung sampai jam satu siang. Haduh, pe er banget buat saya yang baru bisa jalan dari Simatupang selepas pukul dua belas siang kan, mana kekejar pas jam padat sampai Kuningan dalam waktu satu jam dengan ojek sekalipun. Tapi ternyata jalanan lumayan oke ya, masuk perempatan Kuningan sekitar 12.45, masih ada harapan dong. Ternyata ujian belum berakhir saudara-saudara, tukang ojek saya cukup pintar untuk putar balik jauh banget jadi ya sampai Kota Kasablanka (KoKas) jam satu lewat. Ya ampun, entah macam apa itu emosi dalam diri saat itu.

Tapi tidak boleh menyerah, mari kita coba peruntungan dan tetap naik ke area The Hall. Saya sendiri pernah sekali ikut acara Jakarta Post di The Hall ini, sehingga lumayan tahu areanya. Sampai sana ternyata dewi fortuna masih melindungi, penukaran tiket masih ada tapi harus antri.. di luar... di cuaca  yang super panas. Oke lah ya, coba dijabanin dulu aja ya, selama ga sia-sia kan sudah datang ye kan.
antrean luar, agak berantakan ya, ada dua sisi pula. 


Setelah antri di luar sekitar sejam-an ada kali ya, lumayan pokoknya saya sampai sempat mengerjakan tugas tulisan lewat ponsel, antrean masuk kemudian diarahkan masuk ke dalam ruangan. Kecurigaan kelas berat kalau acara akan mulai terlambat, soalnya sesuai jadwal seharusnya jam dua mulai kan ya. Suasana di luar sempat sedikit memanas soalnya sekitar jam dua, mengingat acara seharusnya sudah mulai tapi banyak yang masih tertahan di luar. Baru sekitar setengah tiga lah kita mulai membentuk barisan di dalam. Lumayan sih disini sebenarnya, selain adem, duduk pun lebih enak. Benar-benar ingat jaman masih ngonser dengan harus antre begini haha. Padahal udah janji sama diri sendiri malas antre, makanya selalu beli tiket konser dengan nomor kursi atau ya datang tepat waktu. Ternyata ya, ini datang tepat waktu pun masih ngaret.


Sepertinya ngaret karena Lisa dan Krunk (boneka beruang maskot sekaligus artis YG) mengadakan acara jumpa media terlebih dahulu. Selain pose di depan latar belakang Shopee, tentu sebagai promosi dong ya, Lisa dan Krunk juga berpose dengan beberapa produk keluaran merek Moonshot. Moonshot memiliki berbagai rangkaian produk kosmetika, lebih lengkap varian produknya dapat dilihat di sini. Setelah bekerjasama dengan Shopee, sekarang produk-produk moonshot dapat dibeli melalui Shopee. Karena toko milik YG ini adalah toko resmi, sehingga berbelanja di toko YG dipastikan akan mendapatkan Shopee Coin. Shopee Coin metodenya seperti cashback ya, nantinya koin yang diperoleh dapat dipakai untuk memotong pembelanjaan kita berikutnya, di toko apa saja tidak musti toko yang sama tempat kita mendapat koin. Secara berkala, Shopee memiliki promosi dimana pembeli bisa mendapatkan Shopee Coin sampai seratus ribu rupiah. Lumayan kan?

Sekitar pukul tiga akhirnya sampai juga di konter pendaftaran, setelah membaca sekitar 80 halaman dan puluhan lagu di playlist Spotify terputar haha. 


Area pendaftaran sendiri cukup rapi ya, kalau membaca dari cuitan di twitter sebenarnya mereka sudah membuat pendaftaran sesuai nama yang terdaftar ya, jadi tidak perlu menunggu lama. Namun karena antrean saya ini antrean yang tidak suka ngantre dari jauh sebelum konter buka, jadi kita bisa daftar di meja mana saja selama kosong. Fyi saja, konter pendaftaran ini sudah buka dari jam delapan pagi dan banyak calon penonton (termasuk di dalamnya para Blink sejati dong ya) sudah mulai berdatangan ke lokasi dari pukul lima pagi. 

Pada konter pendaftaran saya menunjukkan kode registrasi saya beserta kartu tanda pengenal, untuk ditukarkan dengan gelang kertas yang berfungsi sebagai tiket.
pake gelang dan dapat banner gratisan fansite
Setelah gelang terpasang, akhirnya masuk juga ke area konser ya. Perkara gelang aja sempat ribet, soalnya petugas pengamanan sempat ribet semua gelang harus langsung terpasang dan di tangan kiri lagi. Biar seragam emang sih ya dan gampang ngeceknya, tapi kan tangan kiri saya jadi penuh, udah ada jam tangan tuh #timpakaijamtanganditangankiri.


Lewat dari gerbang ini, berarti sudah sah jadi bagian dari penonton resmi ya. Soalnya ternyata yang ikut antre bareng saya itu ada beberapa orang yang tidak dapat tiket lewat Shopee. Sepertinya sebelumnya mereka dijanjikan akan bisa masuk kalau ada kursi tersisa ya. Tapi ternyata tidak dapat masuk juga. Padahal sebenarnya sih, di belakang saya masih banyak kursi tersisa. Sedih juga ada sekitar lima atau sepuluh baris masih kosong. Saat selesai acara, saya baru ngeh juga kalau banyak banget para Blink yang ga bisa masuk dan memenuhi area di sekitar The Hall.

Hanya menunggu sepuluh menit dari saya masuk ke lokasi acara, Dave Hendrik yang berperan sebagai MC sore itu memulai acara pukul 15.20. Sebelum acara dimulai, layar memutar berbagai macam iklan Shopee dan video musik keluaran YG. Lumayan untuk membunuh waktu.

Lisa ngobrolin soal kesan pertama tiba di Indonesia serta produk Moonshot yang dia pakai (cushion kalau ada yang penasaran), sebelum akhirnya menghilang lagi ke balik panggung. 
gambar dari sini
Pihak Shopee menjelaskan salah satu alasan YG membuka toko resmi di Indonesia adalah karena pasar yang sungguh besar. Menurut pihak YG, Indonesia adalah pasar terbesar YG. Keren banget kan. Ini juga pertama kalinya agensi Korea Selatan membuka toko resmi di Indonesia, walau masih dalam bentuk daring.

Sesi berikutnya adalah lomba merias wajah. Dave meminta sepuluh pasang penonton untuk naik ke atas panggung. Menggunakan produk dari moonshot, satu peserta bertindak sebagai perias dan peserta lainnya pasrah merelakan wajahnya dirias. Melalui tepukan penonton, Dave menentukan siapa pemenangnya. Siapapun yang menang tentu beruntung karena mereka semua berfoto bareng dengan Lisa. How lucky!
gambar dari sini
Lepas dari acara foto bareng yang sempat membuat banyak penonton histeris, iri tentunya, Dave menenangkan dengan berjanji memberikan lebih banyak hadiah lagi. Namun sebelum itu, kali ini giliran Krunk the Bear yang hadir ke atas panggung. Krunk ini saya baru sempat cari tahu saat berada di lokasi acara. Mengingat banyak penonton memilih berdiri di atas kursi, saya jadi tertutup untuk melihat ke arah depan. Malas rasanya ikut berdiri, masih berasa cape setelah ngantre tadi lol. Jadi ya saya browsing sendiri lah soal Krunk.

Unik juga ya ternyata si Krunk ini. Sebagai maskot beruang milik YG Entertainment, ia dibuatkan video musik juga dan sempat mengadakan jumpa fans di Jakarta pada medio Oktober 2017 lalu. Ba ru ta hu. Krunk juga punya akun instagram sendiri, bis cek di sini. Lumayan juga pengikutnya ada 300an ribu. Swag banget ini gaya si beruang, mencerminkan agensinya banget. Musik video 'I Can't Bear' sudah ditonton lebih dari 400 ribu di kanal Youtube.


Krunk melakukan medley dance untuk lagunya sendiri, I Can't Bear, dan lagu milik Big Bang, Bang Bang Bang. Lumayan juga ya siapa saja yang ada di dalam kostum Krunk ini, macam ga habis energinya, karena setelah itu dia langsung ikutan acara dance battle bersama dengan penonton. Dua kelompok yang bertanding adalah tim Krunk dan Shebi Hebi. Shebi Hebi adalah maskot milik Shopee.

Selesai dance battle, masih lanjut dengan tebak gaya. Kali ini lima penonton yang beruntung naik ke atas panggung. Lumayan simpel sih tebak gayanya, dari mulai gaya berenang, balet sampe Gangnam Style.

Lisa naik lagi ke atas panggung untuk melakukan pengundian tiga penonton yang beruntung mendapatkan hadiah utama, merchandise dari Shopee. Sempat terjadi empat kali pengundian karena pemenang ketiga ga muncul-muncul saat namanya dipanggil sehingga diskualifikasi. Ini kemunculan terakhir Lisa di atas panggung. Sempat kecewa sih kok dia ga ada nyanyi atau dance ya, sayang banget soalnya. Pikir-pikir, jadi sepertinya memang Lisa datang untuk promosiin ShopeeXYG saja ya. Dia sendiri berjanji akan kembali lagi dengan teman-teman BPnya.


Tidak sampai jam lima sore acara telah selesai, ditutup dengan beberapa pertanyaan kuis terakhir dari MC. Tidak sampai dua jam ternyata, kurang lebih hanya berlangsung sekitar satu setengah jam. Melihat antusiasme para Blink, tidak sabar rasanya menunggu mereka datang komplit berempat ya. Semoga tahun ini ya mereka beneran balik konser.

Siapa yang sudah kangen sama Lisa?


Saturday, August 4, 2018

Asyiknya Menulis (Karya) Antologi


Beruntung sekali saya akhirnya dapat merasakan bergabung dengan grup whatsapp One Day One Post (ODOP) berkat informasi dari mamah merah. Grup ODOP ini mulanya berasal dari facebook, dengan judul ODOPfor99days dimana tujuannya adalah mengajak anggotanya untuk rajin menulis, setidaknya satu hari satu tulisan yang dipublikasikan, baik lewat blog pribadi atau media daring lainnya. Tentu satu grup yang saya perlukan untuk mendukung niat saya rajin menulis.

Setelah sekitar dua bulan kalau tidak salah rajin mengikuti grup-nya, mereka memilih peserta-peserta yang konsisten menulis untuk masuk ke dalam grup whatsapp. Ada 60an peserta yang beruntung bergabung di grup whatsapp. Keistimewaan utama grup whatsapp tentunya kesempatan mengikuti kulwap (kuliah whatsapp), yang tidak didapat mereka yang hanya bergabung di facebook.

Nah Jumat malam (3/8) kemarin saya beruntung mengikuti kulwap pertama grup whatsapp dengan judul 'suka duka menulis buku antologi'.


Narasumbernya adalah Teteh Ai Sundari yang sudah memiliki banyak antologi. Teh Ai sendiri sudah menulis tujuh buku antologi, dua dengan tema dewasa (33 Kisah Me Time & Chamomile Tea For Wonderful Moms) serta lima dengan cerita anak-anak (43 Dongeng Amazing, Meraih Bintang Surga, Tahukah Kamu, Semarak Idul Fitri Di 5 Benua 20 Negara, Semarak Idul Adha Di 5 Benua 
Antologi sendiri menurut definisi KKBI adalah: kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang. 20 Negara). Yang menarik, dua cerita anak terakhir diterbitkan oleh penerbit mayor. 
Sesi kulwap dimulai dengan tanya-jawab dari peserta yang telah dikumpulkan sehari sebelumnya. Ada tujuh pertanyaan yang telah disiapkan, saya sendiri ikut menyumbang satu pertanyaan. Pertanyaan yang ditanyakan bervariasi, dari mulai mencari ide menulis, mengatur waktu, suka duka menulis antologi sampai cara promosi yang efektif.

Teh Ai mengungkapkan hambatan utama menulis antologi adalah tenggat waktu yang mepet, biasanya sekitar dua minggu. "...saya perlu menyiasati waktu untuk menulis naskah." Terkait mengatur waktu untuk menulis Teh Ai memaparkan strateginya, "waktunya, ini yang masih tricky, hehe. Kapan saja saat sempat. Dalam batas deadline ya. Karena ide sudah terbayang biasanya saya reka dulu di kepala. Langsung tuangkan di laptop saat sempat. Biasanya malam hari saat anak saya ada yang menemani. Kirim dulu naskah lalu revisi lagi. Untuk merampungkan naskah saya targetkan 1 hari selesai. Atau bahkan semalaman." Duh kebayang ya manajemen waktunya luar biasa, di sela-sela mengurus rumah tangga lho menulisnya.

Terkait ide untuk menulis antologi, Teh Ai mengungkapkan enaknya menulis antologi karena temanya sudah diberikan. "...di awal sudah ada pembagian topik sehingga tidak terlalu sulit mencari ide. Cukup mengembangkan, mencari topik spesifik yang unik, memasukkan unsur menghibur, mendidik dan konflik dalam cerita anak," ungkap Teh Ai menambahkan terkait tema menulis. "...untuk proses kreatif, biasanya gagasan/ide muncul dari hal-hal yang sudah terjadi. Concern saya saat ini adalah menulis naskah cerita anak dengan panjang 1-2 halaman saja. Ide yang saya tuangkan dalam naskah seringkali diambil dari hal-hal yang dialami anak saya, atau saya pribadi saat kecil dan hasil pengamatan saya pada beberapa anak. Digabungkan dengan faktor pendukung di sekitar, jadilah sebuah cerita," lanjut Teh Ai terkait proses kreatif di belakang penulisan karya-karyanya.

dua karya Teh Ai - gambar dari facebook Teh Ai
Menulis antologi itu menyenangkan, setidaknya ada dua alasan yang diungkapkan Teh Ai kenapa senang sekali terlibat dalam proses antologi, sekarang malah sedang semangat-semangatnya beliau.

Proses Latihan
"...buat saya turut menulis di buku antologi itu seperti latihan, saya juga senang membaca naskah teman lain dan mendapatkan masukkan dari penulis lain. Melalui proses membaca dan direview saya belajar lebih banyak. Nah proses latihan ini saya harap bisa lebih mengasah kemampuan saya." Selain itu Teh Ai juga belajar banyak terkait Bahasa Indonesia. "Tahu bagaimana menulis sebuah percapakan yang baik dan benar, karena sebelumnya saya tidak tahu. Membuka mata saya bahwa bahasa Indonesia itu luar biasa, banyak sekali kosa katanya."

Isinya Kaya dan Unik
"...yang bikin buku antologi rich and unique justru karena gaya penyampaian cerita dari tiap penulis yang beragam. Ini membuat cerita dalam satu buku berwarna."

Kedua hal diatas membuat seluruh proses penulisan antologi menjadi berwarna dan meninggalkan kesan tersendiri untuk Teh Ai. Ada pembelajaran yang dapat diambil dari setiap karyanya. Berbicara mengenai karya antologi paling berkesan, Teh Ai mengungkapkan satu buku yang menurutnya meninggalkan kesan tersendiri baginya.

Karya ini diterbitkan penerbit mayor Ziyad
Karya yang paling berkesan adalah Semarak Idul Adha di 5 Benua - 20 Negara karena terbit mayor, yang merupakan impiannya. Full color, ilustrasinya menarik. Teh Ai mengakui bahwa ia lebih menyukai buku yang berwarna. Selain itu keuntungan penerbit mayor tentunya saat terbit, selain buku ceritanya full color, lebih menarik, dibuatkan iklan, ada tim marketing tersendiri dan penulis mendapatkan royalti. Misal untuk buku ini saja, terjual 5000 eksemplar tapi yang memesan ke penulis sendiri tidak banyak. Hikmahnya, buku tetap terjual banyak meski sebagai penulis tidak terlalu gencar promosi.

Terkait promosi, memang ada positif negatif tersendiri terkait terbit mayor atau indie. Karya indie bisa jadi lebih bagus dan lebih menguntungkan serta lebih cepat terbit. Buku-buku karya Teh Ai sendiri terbit dalam dua versi, 5 buku indie dan 2 terbit mayor. Hasil karya penulis dari indie pun sepenuhnya masuk ke kantong penulis.

Akhir kata, Teh Ai mengungkapkan untuk penulis dapat membuat dirinya dikenal, beserta dengan semua kualitas yang dimiliki. Jangan lupa ikut komunitas agar teman-teman di komunitas banyak yang ikut pesan juga. Semua ini akan berguna saat nantinya kita harus mempromosikan karya.

Teh Ai sendiri memulai perjalanan menulis antologi melalui grup ODOP lho. Keren ya. Jangan lupa kepo-in bukunya yang terbaru. Bisa pesan langsung di nomor: 0811-820-1524


Sampai jumpa di Kulwap selanjutnya ya.

Friday, August 3, 2018

Book Signing: Menerjemahkan Lidah Aruna ke Layar Lebar




Jumat (3/8) ini saya menyempatkan diri hadir ke acara book signing sekaligus diskusi buku Aruna dan Lidahnya. Acara ini bertempat di toko buku Aksara di Kemang, Jakarta. Membahas tentang proses transformasi dari novel ke film, sesi ini menghadirkan tiga pembicara; Laksmi Pamuntjak (penulis), Dian Sastrowardoyo (Disas/pemeran Aruna) dan Meiske Taurisia (produser). 

Acara yang dimulai pukul satu siang ini sudah cukup rame ketika saya sampai sekitar pukul dua belas. Tidak heran mengingat pada promo acara disebutkan beberapa keuntungan menarik yang akan diberikan selama acara berlangsung. Dua dari keuntungan yang diberikan adalah; acara makan mie ayam bersama serta untuk pengunjung yang beruntung, akan mendapatkan lima buku Aruna dan Lidahnya versi terbaru. Menurut informasi yang saya baca di twitter, lima pengunjung pertama yang membawa buku versi lama akan mendapatkan versi baru saat itu. Namun ternyata saat di lokasi, selain lima orang tersebut, dua orang pertama yang tidak membawa buku tetap mendapat buku Aruna versi baru. Sungguh beruntung ya.


Antrean di awal acara sempat membingungkan karena sampai pukul 12.30 belum ada tanda-tanda meja pendaftaran dibuka, sementara sudah banyak pengunjung yang datang. Saat tiba-tiba ada informasi bahwa pendaftaran akan dibuka pukul 12.45 di area depan toko buku, kami semua yang sudah menunggu di area dalam toko buku seketika menghambur keluar dan membentuk antrean. Benar-benar berdasarkan faktor hoki jadinya antrean ini. Saya yang datang sekitar pukul 12.15 ada di barisan keempat. Tentu saja saya dapat buku versi baru gratis haha, karena saya membawa buku lama. Lumayan satu disimpan, satu bisa dibaca sampai lecek.

Okay setelah antrean selesai, kami kembali menunggu di area dalam toko buku. Toko bukunya sendiri memang lumayan nyaman ya, saya baca-baca, ternyata memang banyak acara sering diselenggarakan disini. Selesai acara kali ini pun, saat saya bersiap-siap meninggalkan lokasi, saya lihat ada yang sedang mengganti properti panggung dan poster acara. Sepertinya bersiap-siap untuk acara selanjutnya. Padat ya.

ini situasi ruangan saat saya datang,
tidak sampai satu jam kemudian tempat ini sudah sangat padat
Acara baru mulai sekitar pukul 13.20, dan saya lihat area dimana sesi diskusi dan book signing berlangsung cukup padat. Sampai ada beberapa orang yang terpaksa berdiri karena tidak mendapat kursi atau tempat duduk lainnya. Seperti Hall Bukalapak tempat saya mengikuti acara BukaTalks, disini juga terdapat undakan seperti tangga yang dapat digunakan sebagai tempat duduk. Konsep desain yang banyak saya temukan pada beberapa tempat.

Setelah pembawa acara membuka sesi, satu persatu pembicara memasuki ruangan, dari mulai Laksmi, Meiske dan terakhir Disas. Satu persatu pembicara mengungkapkan proses kreatif di balik pembuatan novel dan film ini.


Laksmi tentu banyak menceritakan ide dan latar belakang penulisan novel yang sudah tiga kali cetak sejak pertama rilis di tahun 2014. Laksmi menceritakan alasannya memilih kuliner sebagai latar belakang novel, menurutnya ketika ada makanan, orang akan lebih mudah dalam mengemukakan pendapat. Pendapat yang berbeda-beda dapat disatukan saat berada di meja makan.

Sepotong kisah dari masa lalu Laksmi adalah alasan lainnya menuliskan novel ini. Almarhum suaminya yang meninggal pada 2013 silam memberinya inspirasi. Kala itu, di hari-hari suaminya yang menderita Kanker Pankreas, ia tidak lagi dapat menikmati bermacam makanan. Namun, kegiatan sehari-harinya adalah menonton program kuliner. Satu hal yang membuat Laksmi tentu bertanya-tanya, untuk apa menonton sesuatu hal yang tidak lagi dapat dinikmati. Namun suaminya beralasan, makanan memberi banyak kenangan indah dalam hidupnya. Laksmi pun melihat perubahan pada diri suaminya menjadi lebih romantis, satu hal yang ia tahu pasti berasal dari kenangannya akan makanan. Dari situ Laksmi sadar betapa kuliner bisa menembus banyak batas dari sekedar mengenyangkan diri. Novel ini pun dipersembahkannya untuk Almarhum suaminya.


Beralih ke Disas yang mengungkapkan alasan utamanya memilih film ini karena sangat jarang sekali genre komedi ditawarkan padanya, sekaligus tidak banyaknya film terkait kuliner yang saat ini beredar di pasaran. Setelah sebelumnya berkutat dengan film 'Kartini' yang lebih serius jenisnya. Film yang kembali mempertemukannya dengan Nicholas Saputra ini, juga salah satu sarana pembuktian kepada masyarakat umum kalau Disas-Nico bisa berperan sebagai teman, tidak selalu pasangan kekasih.

Disas mengungkapkan beberapa tantangan yang terjadi saat berperan dalam film dengan banyak adegan makan di dalamnya, tentu saja selain tantangan kenaikan berat badan yang harus dijaga. Salah duanya yang pertama adalah terkait memastikan keseimbangan antara menyelesaikan mengunyah makanan untuk kemudian berbicara. Memastikan tidak terlalu cepat mengunyah sehingga bisa tersedak atau sebaliknya, terlalu lama mengunyah baru kemudian berbicara sehingga durasi melebar. Hal kedua terkait dentingan alat makan yang digunakan, mengingat sebagian besar alat makan terbuat dari bahan pecah belah sehingga sentuhan sendok/garpu dengan alas makan sekecil apapun akan menimbulkan gangguan suara. Disas harus memastikan ia menyendok makanan pelan-pelan namun terlihat biasa saja.

Terkait karakter Aruna yang absurd, Disas terlebih dahulu membaca novelnya untuk memahami cerita sesungguhnya baru beralih ke skrip. Saking menghayatinya pada peran ini, salah satu peristiwa seru terjadi saat syuting. Peristiwa yang membuat Oka Antara, lawan mainnya, berkata Disas telah menjelma menjadi Aruna sesungguhnya. Peristiwa ini nantinya dapat disaksikan di layar lebar saat Aruna dan Lidahnya tayang akhir September nanti. Laksmi sebagai penulisnya pun belum mengetahui adegan apa yang dimaksud. Disas, dibantu Meiske, hanya memberikan petunjuk adegannya adalah kombinasi dari kegiatan olahraga dan UFO. Bikin penasaran ya, karena adegan tersebut benar-benar terinspirasi dari masa kecil Disas sendiri.

nongol dikit ya mejeng hihi
Meiske sebagai produser film yang digarap oleh PalariFilms mengungkapkan beberapa tantangan yang dihadapi dalam melakukan adaptasi tulisan ke dalam adegan, meramu bahasa menjadi cerita. Ia harus mampu memadukan aspek audio dan visual untuk menerjemahkan novel laris ini. Akting para pemain tentu salah satu komponen terbesar dalam film ini. Meiske merasa beruntung ia memiliki super cast untuk filmnya ini.

Apabila di novel diceritakan Aruna harus berkeliling delapan kota, dalam film ini hanya akan diceritakan petualangannya di enam kota saja. Kota-kota yang dipilih berlokasi di Pulau Jawa dan Kalimantan. Tentu bukan tanpa alasan keputusan ini dibuat, selain masalah teknis, kuliner dari kedua pulau ini dianggap memiliki keragaman yang berbeda. Perpaduan keragaman kuliner keduanya akan menghadirkan keunikan tersendiri di dalam filmnya. Meiske secara personal menyebutkan kota Singkawang paling meninggalkan kesan di hatinya.

Selesai acara diskusi, berikutnya dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab berjalan seru karena beberapa peserta yang hadir merupakan penggemar berat Laksmi atau Disas. Salah satu penggemar Laksmi hadir jauh dari Karawang dan sudah tiba di lokasi dari pukul sepuluh pagi. Ia membawa beberapa buku karya Laksmi yang sudah cukup lama, sampai Laksmi pun takjub dan memperhatikan bukunya dengan seksama, melakukan pengecekan cetakan keberapa. Sementara salah satu Sahabat Disas (panggilan untuk penggemar Dian Sastro) ada yang telah mengikuti kiprahnya sejak tahun 1997. Sungguh luar biasa dedikasi pria ini, sampai-sampai Disas pernah mengantarnya pulang dengan mobil pribadinya karena sang penggemar kehabisan uang setelah datang ke salah satu acara Disas.


Selesai tanya jawab, saatnya para pembicara memilih pertanyaan terbaik, dan bersamaan dengan peserta yang mengisi pendaftaran di saat-saat awal, dilakukan foto bersama. Lumayan ada sesi foto ini jadi saya ga perlu nungguin atau ngejar Laksmi/Disas untuk foto bareng jadinya haha. Novel Aruna dan Lidahnya edisi sampul film pun pertama kalinya diedarkan di acara ini. Saya jadi punya dua versi novel sekarang, hamdalah yang ini gratisan jadinya saya bisa pakai untuk dimintakan tanda tangan dan simpan saja.

Setelah sesi foto bersama untuk para pemenang, kami langsung berbaris untuk acara utama: book signing. Ini sebenarnya tujuan utama saya datang haha.


(ki-ka) tanda tangan Meiske, Laksmi dan Disas
Mengingat novelnya bercerita soal kuliner, tidak lengkap rasanya tanpa aspek makanan hadir di dalamnya ya. Salah satu gimmick  yang diberikan acara ini adalah makan mi ayam bersama. Sehingga selesai mengantre tanda tangan, saya diarahkan ke area belakang toko buku yang cukup terbuka untuk menukarkan kupon saya dengan mi ayam.

mi ayam diracik di tempat!
Lokasi toko buku Aksara ini memang cukup luas ya ternyata. Di area belakang selain ruang terbuka, terdapat ruang-ruang kecil untuk berdiskusi atau rapat kecil. Terdapat banyak bangku-bangku juga untuk bersantai. Area yang nyaman dan enak banget untuk baca-baca.

it's set! delish.
Mi ayamnya buatan sendiri dengan mi yang sedikit kenyal. Saya bukan pecinta kuliner tapi paham kalau kaldu yang dipakai sebagai kuah mi berbeda. Ngobrol-ngobrol dengan peserta lain yang baru saya temui di lokasi, sepertinya mereka menggunakan kaldu dari tulang sapi. Wihh, pantas beda rasanya. Bonus sekali memang kalau datang acara kemudian bertemu dengan orang lain yang memiliki minat yang sama.

Terima kasih untuk acaranya yang seru PalariFilms, Toko Buku Aksara dan Gramedia Pustaka Utama. Ditunggu acara-acara lainnya.

Nah, sudah siapkah Anda menonton Aruna dan Lidahnya?
Masih ada waktu membaca bukunya dulu sebelum filmnya rilis loh πŸ˜‰

Thursday, August 2, 2018

Buka Talks: Menjadikan Bahasa Indonesia Bukan Pilihan

gambar dari sini
Kamis malam kemarin (2/8) saya menghadiri acara Buka Talks: Berkarya dalam Bahasa Indonesia yang bertempat di Aula Bukalapak, Plaza City View Kemang. Sungguh sangat jarang bukan acara baru semalam, hari ini saya sudah unggah ceritanya haha. Soalnya banyak sekali informasi baru yang saya dapatkan semalam dan ingin rasanya langsung berbagi.

Saya sendiri tertarik sekali datang ke acaranya karena salah satu pembicaranya. Ivan Lanin, seorang Ahli Bahasa yang menyebut dirinya Wikipediawan sejak tahun 2005, adalah alasan utama saya datang ke acara ini. Sosok Ivan ini menurut saya sungguh menarik. Seorang sarjana Teknik Kimia, kemudian melanjutkan magister pendidikan Teknologi Informasi,  kemudian berbelok menjadi penggiat bahasa Indonesia. Cuitannya di media sosial twitter seringkali menjadi viral dan, buat saya terutama, menohok. Ivan kerapkali berbagi terkait penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ia juga tidak segan membalas pertanyaan dari 600 ribu lebih pengikutnya. Melalui sesi semalam, Ivan mengungkapkan sekitar satu dua jam waktunya dihabiskan dalam sehari untuk membalas setiap pertanyaan yang masuk.


Acara Buka Talks sendiri sebenarnya acara rutin yang diselenggarakan oleh market place BukaLapak, market place nomor satu di Indonesia saat ini. Saya sendiri terus terang bukan pengguna aktif BukaLapak, ada tempat belanja daring lainnya yang saya lebih suka, namun saya suka BukaLapak karena komitmen mereka terhadap dunia literasi. Bukan kali pertama mereka membuat acara yang terkait dengan literasi, bulan Juli lalu mereka mengadakan acara yang sama dengan judul 'Enriching Life Through Literacy'. Acara tersebut menghadirkan A. Fuadi dalam sesi 'The Power of Writing' dan Aan Mansyur membicarakan 'The Art of Saying the Unsaid'.

Sesi Agustus ini dengan mengambil judul: Berkarya dalam Bahasa Indonesia, tiga pembicara dihadirkan. Selain Ivan Lanin yang sudah saya singgung di atas, hadir juga Alanda Kariza (penulis) dan Sapto Anggor (Pimred Tirto.id). Oh iya, hari ini juga Tirto berulangtahun yang kedua, sehingga semua informasi yang dibagikan di situsnya hanya berupa infografik saja.

Acara dimulai pukul 18.30 sesuai undangan. Saya sendiri sampai sana pukul 18.20, lumayan cepat ternyata dari kantor sekitar setengah jam saja. Setelah menunjukkan aplikasi bukalapak di ponsel dan mengisi daftar absensi, saya diarahkan ke area aula. Oh iya, tiket acara ini walaupun gratis tetap harus dibeli melalui aplikasi ya. Saya coba beli di situs diarahkan untuk mengunduh aplikasinya. Cara yang jitu ya untuk membuat calon pelanggan terbiasa menggunakan aplikasi.

tiket acara semalam
Setelah melakukan pembelian, saya menerima tiket melalui surel. Agak janggal juga sih kenapa masih harus mengisi daftar absensi, bukan lebih enak pindai kode palangnya saja ya. Soalnya kan BukaLapak perusahaan yang pastinya sangat melek digital ya.

Baiklah, kita lupakan soal tiket dan kembali ke acara. Area kantor BukaLapak ini seru banget, khas kantor perusahaan rintisan (start-up) yang tidak biasa. Berwarna-warni dan banyak ornamen-ornamen unik. Saya melewati area santai dimana terdapat beberapa meja kursi untuk duduk-duduk dan bahkan terdapat gerbong kereta untuk makan di dalamnya. Duh, saya ga sempat foto di area ini karena saya pikir saya sudah telat ya, jadi segera masuk ke dalam. Sambil cari posisi duduk strategis juga sih, posisi duduk menentukan prestasi katanya kan haha.

gambar dari sini
seru ya lokasi panggungnya


Saya dapat tempat duduk sekitar tiga baris dari depan, jadi lumayan strategis untuk melihat panggung di hadapan saya. Acaranya ternyata tidak mulai 18.30, masih menunggu peserta yang lain sepertinya. Sambil menunggu, panita mempersilakan untuk mengambil cemilan dan botol air mineral yang disiapkan di sisi aula. Jadi, sambil menunggu, saya memilih menghabiskan waktu membuka beberapa akun media sosial saya. Tadinya mau membaca sebenarnya, saya selalu membawa buku kemana-mana, tapi cahaya di dalam aula kurang mendukung. 

Sekitar 19.05 acara baru dimulai dengan Ivan Lanin sebagai pembicara utama. Ivan membuka sesi dengan tema: Bahasa Indonesia itu Indah. Baru pembukaan saja sudah seru, karena ia mengganti kata BukaTalks menjadi BukaBincang. Menurutnya, kenapa harus pakai bahasa Inggris kalau Indonesia saja bagus lho. Haha. Tohokan pertama malam ini.


Ivan membuka sesinya dengan bercerita tentang riwayat dan sejarah Bahasa Indonesia. Banyak fakta menarik yang diungkapkan, dan dalam setiap penjabarannya ia selalu menyisipkan pesan untuk bangga dengan Bahasa Indonesia. Salah satu contoh yang ia ungkapkan terkait rekannya yang harus melakukan praktek kerja di luar Jakarta, temannya tidak perlu khawatir akan komunikasi karena dimanapun mereka berada, komunikasi yang dilakukan pasti dalam bahasa Indonesia. Apapun bahasa daerah yang dimiliki satu area tersebut. Bandingkan dengan Singapura misalnya, dimana mereka harus selalu menggunakan empat bahasa dalam setiap acara kenegaraan; Tamil, Inggris, Mandarin dan Melayu. Kebayang kan kalau semua pemilik bahasa hanya mau menggunakan bahasa mereka masing-masing.

Satu fakta lainnya yang diungkap adalah terkait kata serapan dari bahasa asing. Ivan mengungkapkan, 9 dari 10 kata Bahasa Indonesia adalah serapan. Ini juga satu kebanggaan, mengingat bahasa kita  berarti cukup luwes menerima berbagai bahasa lain untuk dijadikan bahasa kesatuan. 

Syarat-syarat dimana kata asing dapat diserap itu ada lima:
- Singkat, lebih singkat dibandingkan menciptakan kata baru
- Memiliki konotasi yang baik
- Masih terdengar enak
- Bentuknya masih seturut dengan kaidah Bahasa Indonesia
- Unik

Contohnya misalnya kata-kata berikut:
- Vegan ini lebih mudah diserap menjadi bahasa Indonesia karena secara pelafalan sesuai dengan ejaan dan struktur kata kita.
- Outbound ini tidak dapat diserap, karena untuk menuliskannya saja berbeda dengan pelafalan. Out seharusnya dibaca out kalau mengikuti kaidah bahasa Indonesia, tapi ini menjadi aut. Sehingga kata outbound diganti dengan mancakrida sebagai padanannya. Manca adalah luar, krida adalah kegiatan. Kegiatan luar ruangan.


Ivan juga memberikan beberapa contoh kesalahan dalam berbahasa, biasanya terjadi karena peluruhan atau penyambungan kata yang tidak tepat. Contoh yang diberikan beberapa awalan yang salah kaprah seperti penggunaan awalan di seperti di mana dan ke pada kepada. Contoh lainnya misalnya mengaji dan mengkaji. Ivan memberikan penakanan pada mengubah dan merubah yang paling sering salah kaprah. Tohokan kedua. 


Ivan juga menjelaskan, Baku tak Mesti Kaku. Ivan paham dengan komentar yang menyebutkan berbahasa Indonesia itu membuat percakapan atau tulisan menjadi kaku, formal, tidak luwes. Sebagai seseorang yang mengaplikasikan Bahasa Indonesia dengan baik sehari-hari, ia berpendapat bahasa kita itu luwes dan mudah menyesuaikan. Setidaknya ada enam aspek yang membuatnya bisa tetap baku namun tidak kaku, yaitu: pilihan diksi, struktur, intonasi, fatis, alih kode serta emotikon.

Diksi terkait pilihan kata yang dapat digunakan, tentu dalam suasana berbicara dengan teman di kafe dan rapat di kantor pilihan kata bisa berbeda. Bahasa Indonesia memiliki ragam diksi yang sangat banyak, belum lagi variasi bahasa daerah yang dapat menyertai. Banyak-banyaklah membaca, klaim Ivan untuk mendapat banyak informasi diksi. Struktur dan intonasi pun disesuaikan dengan konteks saat pembicaraan dilakukan, apakah formal atau kasual, kepada orangtua, rekan kerja atau teman.

Fatis adalah ilmu baru yang baru saya dapat semalam. Fatis adalah kosakata yang tidak memiliki arti, namun membantu memberikan emosi, sehingga tulisan menjadi lebih luwes. Contoh fatis adalah ah, eh, dong, deh, ih dan semacamnya. Fatis membantu kalimat menjadi terdengar lebih menarik dan tidak canggung. Sementara alih kode berarti menyesuaikan kata pada satu struktur kalimat dalam bahasa yang sama. Misalnya, daripada menyebutkan aku tuh selalu download di website ini bisa menjadi aku selalu mengunduh di situs ini. 

Terkait alih kode, ada cerita lucu sisa semalam. Pimred Tirto.id, Sapto, sempat tersindir karena salah satu materi presentasinya menggunakan judul sastrawi nan indepth bukan sastrawi mendalam. Sapto sempat meminta maaf terlebih dahulu sebelum memulai sesinya malam itu haha. Tohokan ketiga.

Sementara emotiko sendiri kita semua sudah familiar, terutama dalam ragam bahasa tulis. Emotikon adalah penyempurna akhir kalimat atau percakapan yang manis untuk memberi penekanan pada emosi yang ingin disampaikan. Apakah itu sedih, senang, kesal atau yang lainnya.

pesan terakhir dari sesi menyegarkan Ivan malam itu
Sesi kedua diisi oleh Alanda Kariza, seorang penulis yang telah menerbitkan buku pertamanya sejak usia 15 tahun. Alanda banyak bercerita pengalamannya dalam menulis berbagai buku yang telah diterbitkannya, baik fiksi maupun non fiksi. Sesinya lebih fokus kepada penggunaan bahasa Indonesia dalam karya.


Terkait penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, Alanda mengungkapkan ia selalu malu dengan novel pertamanya. Novel tersebut sangat jauh dari kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga ia malu mengakui keberadaan novel tersebut. Satu hal yang mendorongnya untuk dapat berbahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah teguran seorang guru bahasa yang ditemuinya di salah satu acara. Guru tersebut mengungkapkan Alanda senang sekali memasukkan kosakata Inggris ke dalam novelnya, membuatnya seakan-akan tidak mampu menulis dalam bahasa Indonesia.

Karenanya, Alanda membagi periode waktu menulisnya menjadi dua; sebelum 2012 dan setelah 2013. Periode waktu pertama saat ia belum paham penulisan dengan baik, dan periode waktu kedua setelah ia cukup paham. Mungkin belum sempurna, tapi setidaknya jauh lebih baik dari periode waktu pertama.

Melalui sesi ini, ada dua hal berharga yang dibagikan oleh Alanda, yaitu tahapan untuk mengembangkan tulisan fiksi dan non fiksi.

Pengembangan tulisan fiksi dilakukan dengan tahapan berikut: ide/premis/tagline - sinopsi - plot - penokohan - pengadeganan - riset - menulis.

Sementara pengembangan tulisan non fiksi dilakukan dengan tahapan berikut: mencatat & menampung ide - mengembangkan konsep - membuat kerangka tulisan - riset - menulis.


Sesi terakhir malam itu dibawakan oleh Sapto Anggor, CEO sekaligus pemimpin redaksi Tirto.id. Media daring Tirto hari ini tepat berusia dua tahun dan menjadi salah satu rujukan berita yang dapat dipercaya. Sapto berbagi tata cara berbicara dalam media dgital serta perbedaan Tirto dan media lain.


Tirto bertujuan untuk menyajikan informasi berkualitas, berbasis fakta dan didukung data, analisa, ditulis secara menarik dilengkapi infografik agar mudah dipahami pembaca.
Tirto mengawinkan aspek jurnalisme dan sastra, mereka menyebutkan sastrawi mendalam, tidak sekedar mengawinkan antara jurnalisme dan sastra. Jurnalisme sastrawi diboboti beberapa atribusi khas yaitu mendalam, kaya dengan data dan informasi yang jadi latar belakang dan konteks, penuh rincian dan (seringkali) panjang, serta utuh.

proses kerja artikel sebelum diterbitkan di Tirto
Tantangan terbesar media daring adalah memberikan informasi yang menyenangkan pembaca namun tetap mendapat pendapatan. Apalagi untuk media gratis seperti Tirto, tantanganya bertambah agar pembaca saat itu tetap mendapatkan konten yang freemium kalau kata Sapto, free biaya berlangganan namun dengan kualitas konten premium. Haha.

Momen pilkada dan pilpres ini, tantangan media semakin besar untuk membantu melakukan pengecekan antara kata dan fakta. Apa yang diungkapkan para calon kepala daerah/presiden nantinya, dalam sepersekian menit harus mampu mereka munculkan datanya. Ini untuk melakukan serangan balik elegan terhadap data para kandidat yang tidak valid.

Acara berjalan cukup panjang sampai lewat pukul sembilan malam, dari sejatinya 20.30 sudah selesai. Saya sendiri tidak mampu berlama-lama ya, mengingat balik dari Kemang ini lumayan pe-er kalau sudah malam haha.


Terima kasih sekali untuk BukaLapak yang membuat sesi yang sangat bermanfaat ini. Membuat saya berusaha membuat artikel ini dengan bahasa Indonesia yang sebaik-baiknya dan mengeliminasi sebanyak mungkin bahasa Inggris yang bisa dialihbahasakan.

Pokoknya teringat selalu kalau Bahasa Indonesia itu bukan pilihan untuk kita diantara semua bahasa yang ada, tapi persyaratan wajib sebagai rakyat Indonesia. Mengingat keistimewaan serta kekayaannya.

lebih gampang bahasa Indonesia kan? haha

Ditunggu acara selanjutnya ya BukaLapak :)